Thursday, 5 February 2015

3 Hal sepele ini membatalkan wudhu

Yang pertama dan yang paling utama, saya hanya ingin memberikan secuil pengetahuan yang saya dapat ketika mengaji dulu. Semoga apa yang sudah saya pelajari selalu bermanfaat bagi sesama.
Inilah 3 hal sepele tapi membatalkan wudhu.


1.Terhalangnya air wudhu

Air wudhu haruslah menyentuh kulit. Peraturannya adalah, ada yang menghalangi air untuk bersentuhan dengan kulit, maka wudhunya tidak sah. Dan ini sering saya alami. Jadi saya harus sholat dua kali karenanya. Apa saja yang menghalangi wudhu?. Bisa jam tangan, atau yang paling tidak terlihat adalah tinta. Segala macam tinta yang menempel baik itu tembus pandang atau tidak namun menghalangi air, maka sudah batal.

Kecuali kutek, karena ada satu hadist yang menyebutkan kutek itu boleh karena indah. Jika saya salah mohon dibenarkan, tetapi saya pribadi belum pernah pake kutek. Kalau kakak saya, dia juga hanya sekali kali dan jarang sekali pakai. Tentang bahannya, saya tidak tahu. Silahkan pakai pacar, tumbuhan yang daunnya dapat memberi warna merah ketika ditumbuk dan diletakkan diatas kuku. Sering kali saya mendengar kalau pacar tidak menghalangi wudhu, alasannya adalah itu menyatu dengan air. Tidak seperti tinta yang walau diaduk berulang kali dengan air tidak akan menyatu karena basis minyak.


3 Hal sepele ini membatalkan wudhu


amazing image by : Fuzz in pixabay

2. Kentut.

Saya rasa ini tidak sepele ya, jadi memang sudah pasti batal wudhunya. Tapi bagaimana dengan kentut yang tidak dapat kita rasakan. Atau kita ragu, apakah akan keluar kentut atau tidak saat sholat. Kadang saya sendiri sering mengalami ini. Jadi kita tidak merasa akan buang hajat, tetapi ada rasa tidak enak diperut. Dan ketika sholat, tiba-tiba kita merasa akan kentut tapi masih bisa ditahan dan tidak jadi. Akhirnya saat kita melakukan duduk diantara dua sujud. Preeeet. Batal deh. 

Kalau yang itu mah saya belum ngalami. Tapi kalau ditahan dan kita tidak tahu apakah keluar atau tidak itu lebih sering. Dan saya pernah membaca juga sebuah hadist, intinya saat kita ragu-ragu maka yakinkan salah satu. Jika kanan maka pilih kanan, jika kita yakin ke kiri maka pilih saja kekiri. Jangan diombang-ambing. Maka jika kita berada dikeadaan tersebut, saya pikir ada baiknya untuk terus sholat bila yakin memang tidak keluar. Tapi selama ini, saya membatalkan sholat dan mencoba untuk berwudhu lagi. Kadang ee dulu supaya benar-benar tidak ada gas yang tersisa.  Supaya saat saya sholat untuk yang kedua kalinya, bisa tenang. 

Tips dari saya, sebelum wudhu pastikan kita sudah buang angin. Kalau perlu disedot saja hehe. Biar keluar semua anginnya. Atau tidak cobalah ee teratur. Ada waktu –waktu tertentu yang kita bisa ee pada saat itu saja. Misalnya kalau dibiasakan pagi, maka tiap hari kita akan ee pada pagi hari. Begitulah.

3. Kita sudah suci, tapi pakaian belum.

Ini sih juga sudah pasti ya. Jadi kalau ada najis menempel di baju atau sarung walau kayaknya jarang juga nempel di sarung, atau mungkin malah di tempat sujud?. Semua bisa terjadi. Seperti kasus sholat jum’at. Itu saya lihat kok ada orang pake pakaian kerja dan kelihatan agak kumel gitu tapi masih sholat. Saya mempertanyakan apakah itu yakin 100% sudah suci?. Dan apakah tidak ada sarung atau pakaian khusus untuk sholat jum’at sehingga harus pakai itu?.  

Lalu pertanyaan ini saya ajukan ke Guru/Kakak seperguruan saya. Jadi beliau menjawab, “darurat menghapus madharat”. Artinya, keadaan darurat bisa menyebabkan kita boleh untuk melakukan apa saja selagi dalam batas tertentu. Jadi yang dimaksud darurat disini adalah misalnya kalau sholat jum’at dan rumahnya jauh. Ia tidak bisa bawa sarung atau pakaian lain yang lebih layak, atau memang kepepet tidak ada pakaian lain yang kering dirumah. Keadaan ini masih dimaklumi.

Beda halnya jika rumah dekat lalu tetap pakai yang kumel. Itu kan tidak darurat? Nah,  berarti itu juga batal dong?. Allahu a’lam. 

Karena saya pribadi ketika akan sholat di perusahaan kadang masih bingung, ini pakaian saya tadi kena najis atau tidak ya?. Lalu kalau memang kena lha apa masa harus tidak pakai baju, sedangkan saya tidak punya. Maka dengan itu saya yakin kan kalau sholat tersebut sah, dikarenakan darurat. Tetapi jika ternyata rumah dekat dan masih ada waktu yang cukup untuk ganti lalu tidak dilakukan, ya batal.

Stop!. Disini poin ketiga sudah keluar dari jalur ternyata, saya benar-benar tidak sadar. Dan baru dibangunkan oleh salah satu komentator dibawah. Terimakasih sudah mengingatkan. Meskipun wudhunya tidak batal, tapi sholatnya jadi gimanaa gitu. Pasalnya, yang suci dari najis itu tidak boleh hanya anggota wudhu tok.. baju, dan bagian non anggota wudhu sepertinya juga harus suci. Ok lah untuk anggota wudhu sudah suci, terus bagaimana dengan yang diluar itu?.

Wah jadi sangat panjang ya?. Memang kalau ingin sempurna sholatnya ya kudu sebaik-baiknya. Termasuk pada sholat jum'at itu, kan ada mandi sunnahnya. Supaya menjamin hilangnya hadas dari anggota non wudhu, maka ya sebaiknya mandi.


4. Wudhu tapi air tidak merata.

Ini sama seperti poin nomer satu. Bedanya, kalau di nomer satu kita sudah merata tapi ada sesuatu yang menghalangi. Sementara pada poin empat ini, tidak ada yang terhalang tapi airnya tidak terusap merata. Jadi bagian anggota wudhu misalnya tangan yang harusnya dikenai air sampai sikut, ternyata hanya sampai lengan. 

Ada satu certia menarik tentang wudhu. Jadi, ketika saya akan berwudhu ternyata adik melakukannya lebih dulu. Saya cengingisan melihat cara dia. Lalu setelah selesai saya tanya, kok wudhunya begitu sih?.

(Prosesnya adalah, saat mencuci tangan, bagian yang dikenai air terlebih dulu adalah telapak tangan lalu gerakannya seperti orang sedang berdoa menegadahkan tangan. Jadi air kena telapak, baru mengalir ke lengan.)

Dia menjawab, "ini ajaran dari pondok di Sukabumi". Alasannya?. "Kalau airnya terciprat kemana-mana karena diusap-usap nanti malah terkena baju, sholatnya jadi tidak sah". Satu ilmu baru bagi saya. Jika selama ini air wudhu itu diusapkan cepat-cepat maka benar sebagian "nyiprat" ke baju. Walau persentasenya mungkin kecil ya?. Mungkin in juga sebabnya dalam satu hadis disebutkan kalau wudhu itu airnya tidak boleh banyak-banyak (boros).

Hmm ada satu lagi, kata guru ngaji saya. Di jazirah Arab sana, wudhu dilakukan dengan cara duduk. Jika kita membandingkan, rasanya tidak perlu. Itu karena beda daerah beda baju adat. Maksudnya, setiap daerah punya caranya masing-masing. Mana yang paling baik?. tidak ada, karena semuanya dikembalikan kepada kepercayaan daerah masing-masing. Yang jelas jika ada ilmu baru, maka bisa diterapkan dalam kehidupan kita.

Sedikit ilmu dari al fakir ini semoga bermanfaat bagi sesama, jika ada yang kurang mohon ditambahkan. Kalau kelebihan rasanya juga masih kurang, maka tambahkan saja melalui kolom komentar. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait

7 comments